masukkan script iklan disini
Berita Viral Populer | Ponorogo - Seorang tukang pijat berusia 61 tahun , karenanya memenuhi rukun iktikad yang ke lima , naik haji. Tukang pijat ini berangkat ke tanah suci bersama sang istri setelah menabung selama tujuh tahun.
Di rumah sederhananya , yang ada di Kertosari , Babadan , Ponorogo , pasangan suami istri (pasutri) Sabarudin dan Umikah masih memijat pelanggannya. Hal itu dilakukan alasannya yakni memang pekerjaan utamanya.
Tahun ini Sabarudin dan Umikah berangkat ke tanah suci dengan tergabung dalam kloter (kelompok terbang) 23 embarkasi Surabaya. "Nabungnya iya , puasa senin kamis juga. Selain itu juga harus hemat. Ini demi ridho Allah. Mending uangnya ditabung buat ibadah haji ," kata Sabarudin ketika membuka obrolan dengan wartawan , Sabtu (29/7/2017).
Dia mengaku , berangkat ke Mekkah tidak mudah. Awalnya ingin melihat tetangganya berangkat haji. Tapi , melihat dari profesinya beliau pesimis. "Ya niat dulu lah. Kalau niat pasti terwujud. Makanya saya menabung setiap hari. Saya usahakan menabung. Karena sudah bertekat naik haji ," tambahnya.
Nabung , lanjut beliau , tak mudah. Karena memang harus menyisihkan uang dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Hal itu seolah mustahil. Mengingat tamu yang datang tidak tentu. "Yang pijat tidak tentu. Kalau final pekan hanya belasan orang saja. Saya juga tidak mematok orang membayar berapa. Seikhlasnya ," bebernya.
Sementara , sang istri , Umikah mengaku , masih merasa mimpi tahun ini mampu naik haji. Apalagi , selama menabung ada tantangannya. "Kadang diambil alasannya yakni keperluan mendesak. Misalnya beli motor. Bisa juga beli keperluan sehari-hari. Tapi alhamdulilah mampu naik haji ," pungkasnya. [mit/suf]
Sumber : beritajatim.com
Di rumah sederhananya , yang ada di Kertosari , Babadan , Ponorogo , pasangan suami istri (pasutri) Sabarudin dan Umikah masih memijat pelanggannya. Hal itu dilakukan alasannya yakni memang pekerjaan utamanya.
Tahun ini Sabarudin dan Umikah berangkat ke tanah suci dengan tergabung dalam kloter (kelompok terbang) 23 embarkasi Surabaya. "Nabungnya iya , puasa senin kamis juga. Selain itu juga harus hemat. Ini demi ridho Allah. Mending uangnya ditabung buat ibadah haji ," kata Sabarudin ketika membuka obrolan dengan wartawan , Sabtu (29/7/2017).
Dia mengaku , berangkat ke Mekkah tidak mudah. Awalnya ingin melihat tetangganya berangkat haji. Tapi , melihat dari profesinya beliau pesimis. "Ya niat dulu lah. Kalau niat pasti terwujud. Makanya saya menabung setiap hari. Saya usahakan menabung. Karena sudah bertekat naik haji ," tambahnya.
Nabung , lanjut beliau , tak mudah. Karena memang harus menyisihkan uang dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Hal itu seolah mustahil. Mengingat tamu yang datang tidak tentu. "Yang pijat tidak tentu. Kalau final pekan hanya belasan orang saja. Saya juga tidak mematok orang membayar berapa. Seikhlasnya ," bebernya.
Sementara , sang istri , Umikah mengaku , masih merasa mimpi tahun ini mampu naik haji. Apalagi , selama menabung ada tantangannya. "Kadang diambil alasannya yakni keperluan mendesak. Misalnya beli motor. Bisa juga beli keperluan sehari-hari. Tapi alhamdulilah mampu naik haji ," pungkasnya. [mit/suf]
Sumber : beritajatim.com