masukkan script iklan disini
Berita Viral Populer | Surabaya - Sujinah seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT) berusia 60 tahun , jadinya berangkat untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Tak tanggung-tanggung dalam mewujudkan rukun iman ke lima , wanita paruh baya ini beriktiar mengumpulkan gajinya selama 45 tahun.
"Saya menjadi pembantu mulai umur 12 tahun , dan memiliki keinginan naik haji usia 15 tahun , semenjak itu saya menitipkan gaji kepada majikan dan saya bilang kalau gaji ini saya niatkan untuk mendaftar haji ," kata Sujinah , Sabtu (29/7/2017).
Meski dalam menyisihkan gajinya , perempuan asli Desa Ngilo-ilo , Kecamatan Slahung , Kabupaten Ponorogo ini juga sering menemui kesulitan , sehingga niat mulianya harus mundur-mundur terus.
"Memang menjadi pembantu itu tidak mampu tetap , kalau majikannnya enak ya kita kerasan. Kalau tidak , ya harus pindah dan mencari pekerjaan lagi ," terangnya.
Ia mampu melenggangkan niat untuk melihat Kubah Suci itu pada usia 15 tahun , alasannya ialah mampu menemukan seorang majikan yang baik hati , yakni Sukarminah , tinggal di daerah Keputih , Sukolilo , Surabaya.
"Seiring berjalannya waktu , selama 10 tahun mengumpulkan uang tapi harus diudur lagi niat saya alasannya ialah ada saudara yang meminjam uang. Akhirnya saya pinjamkan alasannya ialah alasannya untuk keperluan keluarga ," paparnya.
Meski begitu , hal tersebut tak menyurutkan niat baiknya mampu beribadah ke Makkah. Dan harus mulai menabung lagi dari awal. Ternyata ketika usia ke 25 tahun itu , niat baiknya diijabah oleh Yang Mahakuasa SWT , sehingga menerima pemberian dari majikan.
"Awalnya saya menitipkan uang sebesar Rp700 ribu kepada ibu Sukarminah. Dan Alhamdulillah ibu mendukung sehingga keperluan untuk makan dan sehari-hari saya di tanggungnya ," kisahnya.
Wanita yang masih lajang ini juga sangat berterima kasih kepada majikannya. Karena semua kepengurusan problem berangkat haji , diuruskan. "Alhamdulillah , saya ucapkan terima kasih pada ibu (Sukarminah). Ibu dan anaknya itu menyerupai saudara. Mereka menganggap saya itu menyerupai ibunya dan neneknya ," kata Sujinah.
Hikmah hidup yang dijalaninya deangan susah payah mampu dirasakan oleh Sujinah dan jadinya wanita yang berpawakan kecil ini mampu terbang ke tanah suci bersama KBIH Muhammadiyah Surabaya. Sujinah tergabung pada kloter (kelompok terbang) 6.
Dengan kegigihan yang dapat memotifasi semua orang , jadinya Sujinah juga menerima santunan dari Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Santunan tersebut pribadi diberikan oleh Rektor UM Surabay Dr. dr. Sukadiono , MM.
"Kita berikan sedikit sumbangsih kepada ibu Sujinah alasannya ialah dengan kegigihan dan ketabahannya menanti panggilan rukun Iman ke lima. Kisah yang dilaluinya mampu menjadi pola bagi kita semua ," tandas Sukadiono yang juga sebagai pembimbing rombongan haji KBIH Muhammadiyah Surabaya. [ito/suf]
Sumber : beritajatim.com
"Saya menjadi pembantu mulai umur 12 tahun , dan memiliki keinginan naik haji usia 15 tahun , semenjak itu saya menitipkan gaji kepada majikan dan saya bilang kalau gaji ini saya niatkan untuk mendaftar haji ," kata Sujinah , Sabtu (29/7/2017).
Meski dalam menyisihkan gajinya , perempuan asli Desa Ngilo-ilo , Kecamatan Slahung , Kabupaten Ponorogo ini juga sering menemui kesulitan , sehingga niat mulianya harus mundur-mundur terus.
"Memang menjadi pembantu itu tidak mampu tetap , kalau majikannnya enak ya kita kerasan. Kalau tidak , ya harus pindah dan mencari pekerjaan lagi ," terangnya.
Ia mampu melenggangkan niat untuk melihat Kubah Suci itu pada usia 15 tahun , alasannya ialah mampu menemukan seorang majikan yang baik hati , yakni Sukarminah , tinggal di daerah Keputih , Sukolilo , Surabaya.
"Seiring berjalannya waktu , selama 10 tahun mengumpulkan uang tapi harus diudur lagi niat saya alasannya ialah ada saudara yang meminjam uang. Akhirnya saya pinjamkan alasannya ialah alasannya untuk keperluan keluarga ," paparnya.
Meski begitu , hal tersebut tak menyurutkan niat baiknya mampu beribadah ke Makkah. Dan harus mulai menabung lagi dari awal. Ternyata ketika usia ke 25 tahun itu , niat baiknya diijabah oleh Yang Mahakuasa SWT , sehingga menerima pemberian dari majikan.
"Awalnya saya menitipkan uang sebesar Rp700 ribu kepada ibu Sukarminah. Dan Alhamdulillah ibu mendukung sehingga keperluan untuk makan dan sehari-hari saya di tanggungnya ," kisahnya.
Wanita yang masih lajang ini juga sangat berterima kasih kepada majikannya. Karena semua kepengurusan problem berangkat haji , diuruskan. "Alhamdulillah , saya ucapkan terima kasih pada ibu (Sukarminah). Ibu dan anaknya itu menyerupai saudara. Mereka menganggap saya itu menyerupai ibunya dan neneknya ," kata Sujinah.
Hikmah hidup yang dijalaninya deangan susah payah mampu dirasakan oleh Sujinah dan jadinya wanita yang berpawakan kecil ini mampu terbang ke tanah suci bersama KBIH Muhammadiyah Surabaya. Sujinah tergabung pada kloter (kelompok terbang) 6.
Dengan kegigihan yang dapat memotifasi semua orang , jadinya Sujinah juga menerima santunan dari Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Santunan tersebut pribadi diberikan oleh Rektor UM Surabay Dr. dr. Sukadiono , MM.
"Kita berikan sedikit sumbangsih kepada ibu Sujinah alasannya ialah dengan kegigihan dan ketabahannya menanti panggilan rukun Iman ke lima. Kisah yang dilaluinya mampu menjadi pola bagi kita semua ," tandas Sukadiono yang juga sebagai pembimbing rombongan haji KBIH Muhammadiyah Surabaya. [ito/suf]
Sumber : beritajatim.com